Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Senin, 29 Desember 2014

Cerita Pendek: Seorang Lelaki dan Secangkir Kopi

Saya punya cerita fiksi. Ini adalah hasil dari rekayasa pemikiran saya. Yang bisa menilai baik tidaknya hanya kalian, tapi bagi saya sendiri, pastinya keren ha..ha..ha. Ceritanya tidak panjang, hanya satu halaman kertas A4 saja. Jadi, tanpa panjang kali lebar kali tinggi seperti rumus mencari volume suatu bidang 3 dimensi saya ingin bercerita yang saya kasih judul Kehidupan Seorang Lelaki dan Secangkir Kopi.

Untuk lebih jelasnya silahkan di baca:

Seorang Lelaki dan Secangkir Kopi Cerpen ( Cerita Pendek ) by Admin.

“Jadi, begini. Pada jaman dahulu hiduplah seorang lelaki perjaka, yang sudah punya pacar, tapi bingung sama kehidupan asmaranya. Lelaki itu adalah anak keempat dari lima bersaudara. Dan dalam kehidupan lelaki itu hidupnya masih dibiayai oleh orang tuanya. Ingin makan pakai biaya orang tua. Mau tidur pakai kasur orang tua. Mau berpakaian masih pakai pakaian pemberian orang tua. Dan mau BAB saja juga pakai WC milik orang tuanya. Begitulah hidup lelaki itu. Tragis, duka, merana dan melarat. Semua serba orang tua. Tapi disisi lain lelaki itu punya keinginan kuat untuk selalu membahagiakan orang tuanya di masa depan, tanpa berpikiran apakah hidupnya bakal selama itu. Bisa saja lelaki itu tiba-tiba mati muda. Entahlah, semua ada di tangan TUHAN pastinya. Lelaki itu gemar bermain keyboard. Tiap hari kerjaannya hanya bermain keyboard, kecuali kalau punya kesibukan lain, seperti: pergi main bersama temannya, pergi ke sekolah tapi jarang masuk ke kelas, pergi sendirian tanpa tujuan yang jelas, tidur tergeletak di sembarang tempat, dan dikira orang-orang yang lewat mengira bahwa lelaki itu mati, gara-gara tidur dimana saja bisa, yang bahasa jawanya “turu sak nggon-nggon”. Seperti itulah kesibukannya selain bergelut dengan keyboard laptopnya.

Suatu ketika waktu mengendarai sepeda, lelaki itu melihat keramaian orang. Lelaki itu hanya melihat saja, tanpa berkeinginan untuk mendekati keramaian itu. Ya, lelaki itu memang tidak peduli dengan kehidupan di luar keluarganya. Lelaki itu membiarkan keramaian para demonstran yang baru saja membakar ban di tengah jalan. Lelaki itu berpikir, “apalah arti menasihati kalau saja tidak didengar dan ditaati, bisa-bisa malah jadi bulan-bulanan para demonstran. Lebih baik menjauh dari keburukan dan mendekati kebaikan, seperti: Masjid, Gereja, Pura, Wihara atau tempat ibadah lainnya”.

Pernah ketika suatu malam sekitar jam tengah malam, lelaki itu mendatangi warung kopi. Lelaki itu memang penyuka dan penikmat kopi. Mau kopi instan, kopi hasil digiling, kopi yang ditumbuk, maupun kopi yang masih utuh, lelaki itu suka. Kopi di warung itu adalah yang termasuk enak kata orang-orang, dan lelaki itu ingin mencoba kebenaran omongan orang-orang.

Kemudian lelaki itu masuk ke warung dan memesan kopi yang paling mahal dan pastinya paling enak di warung itu dan duduk di kursi meja nomer 13. Sekitar 10 menit, kopi pesanannya datang. Lelaki itu kemudian mencobanya. Setelah mencicipi satu tegukan, kemudian lelaki itu mendatangi kasir. Lalu membayar satu gelas cup kopi itu, dan pergi keluar warung kopi itu tanpa berkata apa-apa. Mbak kasir yang melayani lelaki itu bingung dengan tingkah lelaki itu. Kemudian mbak kasir berupaya mengejar lelaki itu untuk mengembalikan sisa uang pembayaran lelaki itu.

Tapi, tidak disangka lelaki itu sudah hilang sekejap mata dengan mengayuh sepedanya. Karena sudah tidak terkejar, mbak kasir berinisiatif masuk kembali ke warung kopi. Setelah masuk, mbak kasir kemudian iseng mengambil gelas cup pesanan lelaki itu. Mbak kasir kaget dan mengucap sumpah serapah. Mbak kasir kaget karena melihat masih ada sisa air kopi di dalam gelas cup itu. Karena menurut pengalamannya, tidak ada orang yang tidak menghabiskan air kopi termahal di warung itu. Tanpa berpikir panjang, kemudian mbak kasir iseng kembali untuk mencicipi kopi tersebut. Mbak kasir kaget lagi dan mengucap sumpah serapah lagi. Para pengunjung lainnya juga ikut kaget, tapi tidak mengucap sumpah serapah.

Mbak kasir kemudian membawa gelas cup kopi ke dalam dapur dan bertanya kepada semua orang yang ada di dapur, “siapa yang membuat kopi di meja nomer 13?”. Mas pembuat kopi bingung dengan tingkah laku mbak kasir yang datang tiba-tiba sambil menangis. Kemudian mas pembuat kopi mengaku dan bertanya kepada mbak kasir, “ada apa gerangan wahai mbak kasir?”. Kemudian mbak kasir berterus terang bahwa kopi yang dibuat oleh mas pembuat kopi rasanya asin. Karena tidak percaya, kemudian mas pembuat kopi mencicipi kopi buatannya tadi. Mas pembuat kopi kaget dan mengucap sumpah serapah, orang-orang yang di dapur juga ikut kaget, tapi tidak mengucap sumpah serapah. Akhirnya mas pembuat kopi menangis mengakui kesalahannya. Mas pembuat kopi dan mbak kasir menangis bersama-sama di dalam dapur itu.”

-Selesai-


Nah, itu tadi adalah cerita yang berjudul Kehidupan Seorang Lelaki dan Secangkir Kopi. Sebenarnya sih kalau kalian pahami dan cermati, cerita ini aslinya ada dua topik. Lelaki sendiri, kopi juga sendiri. Tapi saya sambung-sambungin saja jadi satu, biar jadi satu halaman kertas A4 haha. Bagaimana, seru tidak? Ya, itulah kelebihan saya dalam membuat cerita ha..ha. Tunggu cerita lainnya, yang pastinya lebih seru lagi. Semoga menghibur.
Cerita Pendek: Seorang Lelaki dan Secangkir Kopi
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top