Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Selasa, 24 Februari 2015

Bajak Laut Licik

Cerpen ( Cerita Pendek ) by Rio Aditya Nugroho. Link: http://manusiaababil.blogspot.com/2015/01/tuah-si-bajak-laut.html

Bajak Laut Licik

Perut memang paling sulit diajak kompromi jika lapar menerpa. Apalagi kalau perut sudah berbunyi bernada tinggi, krucukkk... krucukkk... berasa para cacing di perut lagi berdisko. Begitu juga sama kedua kawan saya, si Mawan dan si Ayun yang kebetulan juga lagi lapar sama seperti saya. Berhubung kita satu nasib, maka kita memutuskan untuk makan bersama, berharap ada yang rela mentraktir diantara kita. Siapa tahu kan? Misal pas kita lagi makan, terus tahu-tahu gebetan si Mawan atau si Ayun telpon “ .. pokoknya aku mau jadi pacar kamu detik ini juga.. ”. Kan saya juga ikutan bahagia, pulang-pulang perut kenyang dompet sejahtera, dan langsung Saya berdoa detik itu juga supaya langgeng dan cepat punya anak. By the way, polemik pajak jadian seperti ini telah banyak memakan korban. Diantaranya pernah ditemukan di jalanan, tewasnya dompet yang sudah kering, diduga pemilik korban dompet habis mentraktir warga se-RT karena ketahuan ketua RT jadian dengan gebetannya. Tapi saya rasa tradisi seperti ini perlu juga dilestarikan, kalau perlu diabadikan malah. Lumayan buat menambal hutang negara melalui pendapatan pajak jadian. Siapa tahu hutang negara yang banyak, langsung lunas kalau pemerintah menerapkan program BPJS (Bayar Pajak Jadian Se-indonesia).

Balik lagi, pada akhirnya saya, Ayun, dan si Mawan bermusyawarah untuk menentukan dimana tempat kita akan makan. Cukup terjadi perdebatan yang alot dan sengit antara kita bertiga dalam menentukan tempat makan malam itu.

Ayun : “Mau makan dimana nih ?”
Saya : “ Makan di nasi goreng sapi aja yuk ? yang deket sma 3 itu ?
Mawan : “ah nggak enak nasi gorengnya menurut saya, sapinya sudah ke-tuaan coy !”
Saya : “ … “ (Back song ’ kalau sapi bisa bicara’)

Satu persatu ide bermunculan untuk mencapai suatu mufakat. Meskipun terjadi perdebatan tidak berkualitas antara kita bertiga, tapi kita yakin sepenuh jiwa bahwa itu akan menghasilkan keputusan yang tepat, akurat dan tetap tidak berkualitas. Hingga di tengah keruwetan kita untuk memilih tempat makan, tiba-tiba si ayun dengan aura meyakinkan memberikan ide.

Ayun : “ Makan seafood mau nggak ? tapi kalau tidak mau, yaudah.”
Saya : “ Bagaimana Wan, menurut kamu kalau di seafood?”
Mawan : “ Nurut “

Duh si Ayun menawarkan pilihan yang sangat menggiurkan, tapi cukup memprihatinkan bagi dompet saya. Kebingungan pun melanda hati saya, di sisi lain saya pengen makan enak, tapi di sisi lain dompet tinggal seribu.

Ayun : “Gimana ? kalau nggak mau juga nggak apa-apa, saya makan sendiri aja kalau gitu.”
Saya : “ Gimana, wan ?”
Mawan : “ nurut “

Astaga, si mawan ditanyain malah nurat-nurut aja lagi, malah nambah saya semakin galau untuk memutuskannya. Saya berpikir sejenak untuk menentukan pilihan itu, ini lebih sulit milihnya dibanding suruh milih jawaban soal pilihan ganda matematika. saya ngelirik muka si ayun bentar, sepertinya dia sudah yakin sekali mau kesana. saya ngelirik mukanya si Mawan, sepertinya polos-polos aja. Dilema ini, ibarat kamu makan soto pakai tangan, susah buat nyiduknya kan? begitupun rasanya sulit bagi saya untuk menjawabnya. Tapi akhirnya setelah 180 detik berpikir, saya putuskan bahwa saya juga nurut aja, sekali-kali makan enak dan banyak gizi, hitung-hitung mengisi nutrisi otak saya supaya IPK saya nambah.

Ayun : “ Gimana nih jadinya ? “
Saya : “ nurut “
Ayun : “ oke, kalau kamu wan ?”
Mawan : “ nurut “

Pada akhirnya kita memutuskan kesimpulan akhir, yaitu ‘nurut’ untuk makan di seafood aja, dan si Ayun sebagai penunjuk jalan ke rumah makan itu, karena dia sebagai pencetusnya. Si ayun sepertinya sudah yakin dengan pilihannya itu meskipun dia belum pernah makan disana, hanya berdasarkan insting dan feeling kalau rumah makan yang kita tuju itu nggak salah pilih.

Keberangkatan kita malam itu serasa melakukan suatu perjudian makan, si Ayun sebagai sang Bandar yang seolah mempengaruhi kita dengan ajakan menggiurkan, lalu saya dan Mawan seperti mahasiswa polos tidak berdosa yang lagi pegang gagang permen lolipop sambil jalan pakai sandal 'ababil' ( anak ingusan ) yang berbunyi. Hingga sampailah kita semua di rumah makan seafood tersebut, dilihat dari bentuknya saya harap rumah makan itu bisa ramah terhadap isi dompet saya. Saya mulai masuk dengan langkah lemas sambil lirik suasana sekeliling, dan kita mulai memilih tempat duduk buat makan. Tiba-tiba sembari kita sedang memilih, seorang pelayan menghampiri dengan sangat ramah dan mempersilakan kita, kemudian memandu kita memakai sabuk pengaman dengan contoh. Oh, ternyata sang pelayan itu adalah pramugari yang salah alamat bung, sampai-sampai duduk di meja makan saja dipandu pakai sabuk pengaman segala. Ha_ha (garing maksimal !). Lupakan.

Setelah kita duduk di meja terpilih, sang pelayan dengan senyum bahagia mempersilakan kita untuk memilih menu makanan yang ada di rumah makan tersebut. Lalu mata kita mulai mengeksplorasi menu apa saja yang cocok buat perut dan cocok buat kantong kita. Seperti memilih pasangan hidup, Cukup lama kita bertiga dalam menentukan makanan apa yang cocok pada malam hari ini. Si Mawan karena bingung, dia nanya sama sang pelayan “menu apa yang spesial ?” Saya pikir si Mawan ini ngapain nanya-nanya menu spesial segala, pasti mahal harganya, tapi saya berpikir positif aja, oh mungkin dia sudah menabung satu tahun khusus mempersiapkan beli menu spesial di malam ini sepertinya. Eh, tapi saya lihat daftar harga menu makanan seafood di sini tergolong murah meriah. Mulai dari ikan laut, kerang, udang, cumi sampai kepiting rata-rata 15.000-an. Aneh ya pikir saya kenapa bisa tidak mahal, apa mungkin rumah makan ini mendapat subsidi silang dari pemerintah atau mungkin dapat dana BOS (Biaya Ongkos Seafood) kali ya. Sepertinya ini hari keberuntungan kita, bisa makan enak dengan harga murah begini. *Ihirrrr.

Saya memutuskan buat beli Kerang hijau saus padang, si Ayun milih Soup Ikan Bawal Palu Mara, dan si Mawan memilih menu spesialnya yaitu Kepiting saus bajak laut, dan harga dari makanan kita ini 15.000-an semua. Raut wajah riang gembira tampaknya menemani malam yang spesial ini bersama kita, seakan merayakan selebrasi goal kemenangan Indonesia senior ke gawang Brazil Usia-10 tahun. Jarang kan kita bisa begini, biasanya si di kost kadang kalau kepepet hanya makan nasi berlauk nasi aja, kalau lagi awal bulan baru deh makan nasi sama ayam selama dua mingguan, abis itu balik lagi makan nasi berlauk nasi. Lalu akhirnya pesanan kita mulai diproses ke dapur yang ditangani oleh chef-chef professional *kelihatannya. Waktu terus berjalan, detik menit berlalu, sampai tiba hampir satu jam !! kampreet,,,,, lama juga ! Itu pesenan kita belum datang-datang, mungkin itu chef-chef nya masih beli bawang di pasar sama nangkepin kepiting di laut dulu !! Mana perut kita sudah seperti babon teriak-teriak lagi.

Akhirnya pesanan pertama datang, yaitu punya saya, kerang ijo saus padang. Kelihatannya enak, tapi kok porsinya pelit amat cuma sepiring kecil, padahal populasi kerang hijau di dunia masih banyak dan belum langka (ah sudahlah). Kemudian pesanan kedua tampaknya dari kejauhan sudah mulai diantar ke meja kita, Soup ikan bawal palu mara pesanan si Ayun dateng juga. Tapi ini beda, banyak banget porsinya seperti porsi keluarga gitu, dengan mangkok yang besar dan daging ikan bawal yang banyak amat, padahal harganya sama seperti punya saya !! Dan yang terakhir pesanan si Mawan diantarkan, Kepiting saus bajak laut dateng juga. Ini juga sama aja seperti si Ayun, porsinya ajib banget dengan satu kepiting besar di piring, padahal harganya sama juga seperti punya saya. Kenapa cuma kerang hijau yang porsinya dikit ? apa karena saya kelihatan muka kriminal, terus nggak boleh makan banyak ? perasaan muka saya sudah unyu seperti telettubies berpelukan deh. Tapi ya sudah, saya ikhlas aja tanpa prasangka buruk apapun kepada siapapun itu. Siapa tahu kerang hijau saya cuma porsi nya dikit karena diambil langsung dari samudera pasifik sana, hitung-hitung menghargai susah payahnya mencari kerang hijau.

Kita pun mulai menikmati hidangan yang telah dipesan masing-masing, si Ayun kelihatan lahap banget makannya, lalu si Mawan kelihatan lahap dan brutal makan kepiting nya. Hingga ditengah kenikmatan menikmati hidangan ini, sang pelayan datang menghampiri dan memberikan sebuah struk yang bertuliskan :
1 X Kerang Hijau Saus Padang
6 X Kepiting Saus Bajak Laut
6 X Soup Ikan Bawal Palu Mara
3 X Nasi Putih
2 X Es teh
1 X Jeruk Panas

Wednesday 14-01-15 19-22-32
Tampaknya ada yang aneh dari struk yang diberikan sang pelayan tadi, kelihatan ada angka janggal yang seharusnya tidak tertera di struk itu.

Mawan : “Eh ini maksudnya apa si ada tulisan enam kali kepiting gini?”
Ayun : “ Iya, ini apaan ya maksudnya enam kali soup bawal juga?”
Saya : “ Tidak tahu, salah ketik kali itu orang, sudah lanjut makan aja”

Sejenak si Ayun dan Mawan berhenti makan sebentar untuk berpikir apakah maksud dari struk yang diberikan sang pelayan tadi. Tampak raut wajah kebingungan terpampang jelas diantara mereka, sementara saya cuek bebek menanggapi struk itu.

Mawan : “ Eh rio, tapi punya kamu tulisannya cuma satu kali kerang hijau doang loh”
Saya : “ iya juga sih, coba deh kamu tanyain wan “

Akhirnya si mawan manggil sang pelayan dan mulai bertanya kepadanya,

Mawan : “ Mbak, ini maksudnya ada tulisan enam kali tu apa ya ?”
Mbaknya : “ oh iya mas, itu maksudnya enam ons dikali harga per porsi mas”
Mawan & Ayun : “…” (perut mulai mual)
Mawan : “ Jadi itu tuh maksudnya 15.000 dikali enam ons gitu mbak !!??”
Mbaknya : “ Iya mas “ (dengan senyum bahagia)
Mawan & Ayun : “ Kaaampreeeettttttt !! “ (dalam hati)
Mawan : “ makasih mbak” (senyum maksa !)

Ternyata enam kali artinya bahwa Mawan dan Ayun harus memesan 6 ons sekaligus dengan harga per ons adalah 15.000 rupiah, jadi jika di total maka harga dalam sekali makan mereka adalah 90.000 rupiah per satu porsi !! belum lagi ditambah satu gelas es teh dan nasi putih, jadi keseluruhan yang harus mereka bayar dalam pesta makan malam kampret ini adalah 105.000 rupiah !!! untung aja saya cuma kehitung 1 ons doang tu kerang, ternyata saya lebih bersyukur dapet porsi kecil ini dibanding saya makan rasanya jadi kagak nikmat karena mikirin gimana caranya puasa 40 hari setelah dompet saya tewas ngebayar 105.000 rupiah !

Emang bener jomblo sih jomblo, perut harus tetap diisi dan nggak boleh nyerah karena sudah ngejomblo seabad, tapi menurut saya seukuran mahasiswa makan satu kali seperti gitu bisa buat makan saya sebulan di kos. Dan kemudian setelah mereka makan dengan perasaan termehek-mehek, si Mawan dengan aura sok tegar memulai percakapan lagi.

Mawan : “Sudahlah kawan, kita ambil hikmahnya saja ya dari semua ini.”

Si Ayun pun merespon pernyataan Mawan dengan raut sok bijaksana.

Ayun : “Iya betul, mungkin kita kurang beramal kawan”

Saya nggak ngebayangin gimana rasanya jadi mereka, mungkin dibalik ketegaran dan kebijaksanaan kata-kata itu, hati mereka mengatakan “saya harus puasa 40 hari setelah makan ini !!” Tapi serasa belum terima sama nasibnya dan belum terima kenyataan kalau cuma saya yang bayarnya paling dikit dan normal, si Ayun menegur saya ditengah makan.

Ayun : “ Rio, mending kamu cek lagi tu, jangan-jangan per kerang yang kamu makan itu dihitung 1 ons kali!!”
Saya : “ Plis yun, jangan ngerusak selera makan saya dah.”

Ayun tampaknya yang paling belum bisa menerima kenyataan ini. Huff, hidup itu memang keras kawan!! Kalau si Mawan saya lihat dia tetap dengan tampang sok tegarnya sembari makan kepiting saus bajak laut dengan brutal yang sudah ngebajak dompetnya dengan brutal juga. Seusai menyelesaikan hidangan kita masing-masing, kita mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan di mulut, dan si Ayun yang dari tadi masih kelihatan dendam sama ikan bawal yang sudah masuk perutnya, berkata dengan sangat bijaksana dan cerdas.

Ayun : “ Abisin aja tuh tissunya, sudah bayar mahal-mahal disini kan. Biar kagak rugi !! abis itu pas cuci tangan, abisin juga tuh sabunnya !!”
Rio : “Sendok sama garpunya dibawa pulang sekalian nggak yun ?”
Ayun : “ cerdas kamu !”

Saya, Ayun sama si Mawan emang mahasiswa akuntansi, jadi setiap uang yang bergulir keluar harus diperhitungkan, begitupun malam ini karena sudah makan mahal, maka pulang-pulang nggak boleh rugi, paling nggak tissu sama sabun cuci tangan di rumah makan itu harus abis sama kita pokoknya.

Ternyata setelah usai makan dan sudah membayar di kasir, penderitaan kita belum selesai sampe disitu pula. Ketika kita sudah siap berkemas menggendong tas, dan melangkahkan kaki satu langkah ke pintu keluar, tanpa ada suara dan angin, tanpa ada tanda apapun, bahkan tanpa ada perasaan negatif dari kita sedikitpun, tiba-tiba hujan turun deras !!!!!! bagaimana bung perasaan anda ? ada batu buat dicemil nggak ya !!!!??#!$%^&$###$%$! Belum lagi saya dapet kabar bahwa mereka gatal-gatal badannya sepulang dari makan seafood kampret itu. Ternyata ini yang namanya sudah jatuh ketimpa badak pula !!!!

-selesai-
Bajak Laut Licik
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top