Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Kamis, 12 Februari 2015

Arti Sebuah Kebahagiaan Sesungguhnya

Arti Sebuah Kebahagiaan Sebenarnya

Bahagia memang susah untuk kita artikan sesungguhnya, tapi bisa kita rasakan secara tidak langsung. Kenapa seperti itu? Ya mungkin daya pikir manusia itu berbeda-beda. Tidak semua sama, tapi kemungkinan pasti ada yang berpikiran sama seperti saya.

Saya akan menjelaskan tentang pendapat saya. Tapi sebelumnya mari kita mencoba berpikir sejenak dengan menutup mata, apakah kita itu sudah ‘BENAR-BENAR’ BAHAGIA? Berpikir diperlukan agar kita tidak mengeja-eja atau menerka dan menebak-nebak saja. Semua perlu dipikirkan secara masak-masak. Karena sebuah kebahagiaan itu pasti memiliki kelanjutan berikutnya yang bahagia pula. Kalau bahagia itu hanya sementara, berarti kita belum benar-benar merasakan bahagia yang hakiki.

Apa kalian pernah mendengar pernyataan berikut: “dunia adalah kebahagiaan yang ‘semu’ dan surgalah kebahagiaan yang ‘sesungguhnya’.” Nah dari pernyataan itu bisa dapat kita petik kata ‘semu’ dan ‘sesungguhnya’. Arti kata ‘semu’ menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) adalah 1. tampak seperti asli (sesungguhnya), padahal sama sekali bukan yg asli (sesungguhnya). 2. tipu muslihat. Sedangkan kata sesungguhnya yang kata dasarnya ‘benar’ adalah 1. sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah. 2. tidak berat sebelah; adil. 3. dapat dipercaya (cocok dengan keadaan yang sesungguhnya); tidak bohong.

Nah sekarang akan saya jelaskan arti sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya menurut pemahaman saya.

rumus bahagia sebenarnya sesungguhnya

Bahagia tercipta jika ada 3 hal diatas, seperti yang ada di gambar diatas. Harus ada rasa Cinta/ Suka/ Senang ditambah dengan rasa Ikhlas dan Bersyukur. Didalam pelajaran Bahasa Indonesia, kita mengenal SPOK (Subjek, Objek, Predikat, dan Keterangan). Rasa cinta/suka/senang itu harus disertai objek ataupun keterangan. Entah objek itu adalah orang lain, benda mati, maupun diri kita sendiri. Dan keterangannya berupa tempat, waktu, keadaan. Contoh saja: “saya cinta ‘dia’”. ‘Dia’ disini adalah objek. Contoh lagi: “saya senang ‘sekarang’”. Kata ‘sekarang’ merupakan waktu, dan waktu adalah keterangan. Kebahagian belum tentu datang bila kita hanya merasakan cinta/suka/senang, karena cinta/suka/senang belum tentu bahagia. Contohnya seperti pernyataan sebelumnya “saya cinta dia”. Apa hanya cinta saja? Ketika kalian sudah mendapatkan wanita itu, apakah kalian sudah benar-benar bahagia? Kalau misal kalian hanya cinta terhadap pasangan kalian, apakah itu menjamin kecintaan kalian seterusnya akan juga menjadi rasa cinta yang kekal/benar? Kemudian setelah kalian melihat wanita lain yang lebih cantik dari pasangan kalian, apakah kalian akan tetap cinta kepada pasangan kalian? Atau malah memilih wanita lain yang lebih cantik? Nah maka dari itu rasa cinta/suka/senang itu belum menjamin kebahagian yang sesungguhnya. Maka dari itu seperti pada gambar di atas perlu adanya rasanya ‘ikhlas’ dan ‘bersyukur’. Tapi kenapa saya menyatukan antara Ikhlas dan Bersyukur? Bahwa Ikhlas dan Bersyukur itu tidak sama. Maka dengan itu saya satukan agar sinkron. Karena bila 2 hal tersebut tidak disatukan maka kebahagiaan sesungguhnya itu tidak akan berhasil.

Untuk kalian mudahnya memahami apa yang saya maksud, saya akan memberikan contoh pernyataan seperti berikut: “Saya bersyukur dia bisa melepas masa bujangnya di umurnya yang 34. Tapi saya tidak ikhlas bia dia menikah dengan wanita yang saya tahu bahwa wanita itu hanya suka dengan hartanya” Atau pernyataan lainnya: “Saya ikhlas memberikan harta saya semuanya kepada hamba Tuhan yang membutuhkan, tapi saya tidak pernah bersyukur kepada Tuhan atas harta yang diberikan kepada saya.” Saya tambahkan juga arti ‘ikhlas’ dan ber’syukur’ dari KBBI. Ikhlas adalah 1. bersih hati; tulus hati. 2. meng-ikhlas-kan: memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati; merelakan: 3. ke-ikhlas-an: ketulusan hati; kejujuran; kerelaan. Jadi, ikhlas itu bergelut dengan diri sendiri. Sedangkan arti bersyukur dari kata dasar ‘syukur’ adalah 1. rasa terima kasih kepada Allah/Tuhan. 2. untunglah (pernyataan lega, senang, dsb). 3. Ber-syukur: berterima kasih; mengucapkan syukur. Jadi, bersyukur dengan TUHAN.

Nah dari penjabaran diatas dapat diartikan sebagai berikut secara singkat. Arti Sebuah Kebahagiaan Sesungguhnya adalah “rasa yang muncul karena adanya rasa cinta/suka/senang terhadap sesuatu, orang lain, maupun segala keadaan dengan ikhlas dan bersyukur”. Karena bahagia bukan ditentukan oleh orang lain, melainkan diri kita sendiri.
Arti Sebuah Kebahagiaan Sesungguhnya
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top