Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Jumat, 13 Maret 2015

Orang Kaya Harta Tidak Selamanya Sombong

Sumber gambar: www.illiyinahmad.com

Di sini Ngeblog Asyikk kembali lagi memberikan sesuatu hal yang mungkin sedikit orang tau, tapi kebanyakan tidak tau. Ini bukan soal seorang anak yang orang tuanya kaya ( harta ). Tapi ini soal orang kaya betulan. Orang Kaya ( harta ) sendiri sebetulnya memiliki banyak definisi, tapi kalau saya pribadi untuk mendefinisikan orang kaya ( harta ) itu hanya satu. Orang Kaya ( harta ) itu adalah orang yang memiliki kelebihan harta. Itu saja definisi yang sedikit tapi sebenarnya sudah mencakup semua. Kelebihan disini artinya adalah melebihi apa-apa yang sebenarnya ia ‘butuhkan’. Misal, dia butuh mobil, dengan itu kalau orang butuh pasti satu saja itu sudah cukup. Tapi kalau orang kaya pasti akan membeli lebih dari satu mobil. Entah itu untuk isteri, maupun anak-anaknya.

Orang kaya (harta) itu pasti sombong. Mau sedekah pilih-pilih, maunya sedekahnya dikenal publik, misal orang kaya yang menyumbang hartanya ke masjid, lalu namanya ingin diketahui publik. Apakah anda berpikiran seperti itu? Belum tentu! Jangan salah persepsi. Tapi sebenarnya ada juga orang kaya yang tidak sombong dan dermawan pula.

Nah, hari ini saya akan cerita tentang orang kaya yang tidak sombong dan dermawan. Oke, bacalah:

Sebut saja dia Pak Bos. Dia adalah Pengusaha Printing dan Design di sebagian pulau J. Dia memiliki sebuah Rumah mewah di kota C dan memiliki Vila di kota Y. Tapi ada yang saya kagumi dari sosok Pak Bos ini. Selain orang kaya, dia tidak sombong dan dermawan pula. Selain itu pakaiannya yang dia kenakan sangat sederhana. Sebelumnya saya belum tau tentang beliau. Saya tau beliau saat beliau mengisi acara Seminar Entrepreneurship di kota saya. Isi presentasi dan cerita beliau membuat saya mengagumi beliau. Beliau juga bisa membuat audience tertawa. Beliau begitu supel dan bersahabat dengan audience. Tak tanggung-tanggung banyak audience yang bertanya kepada beliau. Entah kehidupan sehari-hari, tips dan trik sukses, dan sebagainya.

Setelah acara selesai, banyak dari para audience yang meminta foto bersama beliau. Dengan senang hati dan tersenyum beliau menghadapi para audience tersebut. Di situlah saya menambah kekaguman kepada beliau. Setelah acara foto selesai, beliau pergi entah pulang atau mengisi seminar lain atau mengunjungi usahanya dengan menaiki mobil sedan. Saya melihat mobil sedan itu biasa-biasa sekali. Saya mulai berpikir “apa benar beliau adalah pengusaha sukses, atau jangan-jangan beliau hanya seorang pengganti (orang sewaan)”.

Tidak lama saya berpikir tiba-tiba datang seorang Pengusaha pengisi seminar lainnya menepuk punggung saya dan berkata “mas, jangan melamun”. Saya sontak kaget karena memang saya waktu itu memang melamun sepertinya. Kemudian saya menjawab, “ah bapak bisa aja. Saya baru mengamati Pak Bos barusan. Beliau begitu bersahabat, supel, sederhana pula. Apakah bapak mengenal beliau?” tanya saya. Kemudian bapak itu menjawab, “iya, saya mengenal beliau. Beliau adalah teman seperjuangan saya. Beliau adalah seorang Pengusaha sukses, tapi kadang saya iri kepada beliau”. Karena saya penasaran kemudian saya bertanya, “iri kenapa Pak? Bukannya bapak juga Pengusaha sukses?” Kemudian bapak itu menjawab, “beliau sukses, tapi beliau sangat sederhana. Karena kesederhanaan beliau yang membuat saya menjadi iri.” Karena saya semakin penasaran akhirnya saya bertanya kembali, “kenapa bapak iri dengan kesederhanaanya? Bukankah bapak juga bisa menjadi seorang yang sederhana seperti beliau?” Kemudian bapak itu berkata, “saya sebenarnya sudah berbuat untuk menjadi seorang yang sederhana. Tapi kadang saya kumat lagi menjadi orang yang sombong, boros, tidak peduli sekitar, dan masih banyak lagi. Maka dari itu saya iri dengan beliau. Beliau itu dari dulu sebelum sukses, sampai sekarang masih sama. Masih tetap sederhana. Dan beliau itu jarang sekali malah tidak pernah untuk melakukan hal-hal yang ada di luar peraturan agama. Beliau orang yang sangat taat beragama.” Kemudian saya mencoba memotong perkataan Bapak, “apa mungkin ketaatan beragama itu yang membuat Beliau selalu sederhana”? Kemudian Bapak itu menimpali, “bisa jadi mas. Mungkin karena itu beliau begitu sederhana.” Kemudian saya bertanya kepada Bapak, “apakah bapak sudah melakukan apa yang biasa Beliau lakukan?” Bapak itu menjawab, ”maksud mas?” Saya menjawab, “Bapak sudah melakukan ketaatan beragama?” Kemudian bapak itu menjawab, “belum begitu mas. Saya kadang-kadang sadar, tapi seringnya lupa. Mungkin sepertinya saya harus rajin beribadah mas.” Saya menjawab dengan penuh semangat, “Nah, mungkin sebaiknya bapak, maaf bukan hanya bapak, tapi saya juga harus taat beragama. Kita mungkin memang di posisi yang berbeda pak. Bapak sukses, sedangkan saya belum. Jadi alangkah baiknya kita membuat janji, bahwa kita harus selalu taat beragama.” Bapak itu menjawab, “iya mas kita harus selalu taat beragama. Oh iya, ngomong-ngomong nama mas siapa?” Saya menjawab, “nama saya Topi Hitam pak”. Bapak itu kemudian berkata, “salam kenal ya mas. Nama saya ...” Sebelum bapak itu menyebutkan namanya, saya potong dan kemudian berkata, “saya tau nama bapak. Tadi kan bapak mengisi seminar, jadi saya tau nama bapak dan keseharian bapak.” Bapak itu kemudian menjawab, “oh iya, saya lupa, ha..ha..ha. Ya sudah mas, saya mau istirahat dulu. Sudah sore, besok saya juga mengisi seminar bersama Pak Bos di kota B.” Saya menjawab, “iya pak. Hati-hati di jalan.” Sebut saja nama bapak itu dengan Pak Nasehat.


---------

- Berdasarkan dari pengalaman pribadi admin
- Dibantu dengan narasumber 'terpercaya' (orang-orang sukses)
- Ditujukan kepada orang yang salah dalam memandang orang kaya harta

Semoga dapat bermanfaat. Amin

Jangan hanya membaca. Jangan lupa beri komentar, saran maupun kritikan.

Sekian dulu artikel dari saya. Salam Ngeblog Asyikk \^o^/
Orang Kaya Harta Tidak Selamanya Sombong
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top