Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Jumat, 27 Maret 2015

Senyuman Belum Tentu Menandakan Kebahagiaan Seseorang

Banyak orang menganggap bahwa senyuman menandakan sebuah kebahagiaan. Tapi sebenarnya itu belum tentu benar adanya. Bisa berarti itu adalah topeng atau kedok mereka untuk menutupi kesedihan hati. Saya ingin bercerita tentang teman saya yang tidak tahu kenapa ingin berbagi kepada saya.

Sebuah Senyuman Belum Tentu Menandakan Kebahagiaan

Tanpa banyak basa basi lagi, bacalah:

Seminggu yang lalu saya pergi berdua dengan teman saya ke pantai, sebut saja dia Alex. Alex kalau saya lihat adalah orang yang periang. Orang tanpa beban hidup karena senyuman selalu ia berikan kepada teman-temannya, termasuk saya.

Tapi tiba-tiba hari itu ia berbeda.

Saya kemudian menanyakan hal itu kepada dirinya,

"kamu kenapa, tidak seperti biasanya, kamu tampak murung?" Kemudian ia menjawab, "maaf, aku telah membohongi kalian."

Sontak saya kaget dan penasaran,

"maksud kamu apa?"

Dengan wajah murung ia kemudian bercerita.

"Apa kamu tau apa yang aku rasakan selama ini?" tanya dia.

Karena tidak tau apa-apa kemudian saya menjawab,

"maaf, aku bukan seorang paranormal yang bisa menerawang hati seseorang".

Dia tersenyum kecil, membuat saya semakin penasaran.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya,

"aku adalah manusia biasa. Aku hakikatnya manusia lemah yang tak bisa berbuat banyak. Banyak masalah dalam kehidupan diriku. Aku sebenarnya memiliki masalah yang cukup rumit. Kamu tau kan bahwa aku bukan orang kaya. Dan kamu tau bahwa semua hal butuh uang. Aku ingin ini, ingin itu, tapi apa daya orang tuaku hanya seorang buruh. Dan itu sebenarnya membuatku seperti ingin pergi dari kehidupan ini."

Sontak kata 'ingin pergi dari kehidupan ini' membuat hati saya merasa iba.

OOT: (Bagaimana tidak iba, namanya teman harus kita bantu, tapi sayangnya saya juga bukan orang yang bisa membantu dengan uang, karena saya sendiri juga bukan orang kaya. Saya masih minta orang tua dan penghasilan orang tua saya sebulan juga tidak juga sedikit sebenarnya, karena kalau buat makan 2 bulan untuk 6 orang masih cukup sisa. Tapi namanya anak baik, tidak suka selalu membebankan semua kepada orang tua ha..ha..ha )

Lanjut ke cerita.

Saya akhirnya menjawab dengan menyalakan rokok saya, agar menurunkan rasa khawatir saya dan membuat suasana menjadi seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa harus iri dengan kekayaan orang lain? Jangan berkecil hati seperti itu. Aku tau apa yang kau rasakan. Dulu orang tuaku juga bukan orang kaya. Orang tuaku lahir dalam keluarga yang bisa dibilang miskin. Tapi dari itu semua, membuat orang tuaku memiliki motivasi untuk membuat anak-anaknya menjadi hidup bukan dalam penderitaan. Jadi dengan itu semua, orang tuaku selalu berupaya semaksimal mungkin untuk membuat aku, kakakku, dan adikku hidup nyaman. Tapi sebagai seorang anak aku juga sadar dan aku juga tidak terlalu berharap sepenuhnya dengan uang orang tuaku. Uang memang dibutuhkan semua orang tapi sebenarnya buka uang yang membuat bahagia, tapi diri kita sendiri."

Tiba-tiba ia melirik saya dengan tatapan tajam, tapi saya tidak mempedulikannya, saya tetap menghirup rokok yang ada ditangan saya dan melanjutkan pembicaraan.

"Kamu itu sebenarnya layak untuk bahagia, bukan hanya kamu, tapi semua orang. Tapi pikiran semua orang itu hanya fokus pada uang, yang sebenarnya kalau uang di hanguskan dan sistem barter tetap berlaku, tidak ada yang merasa dirinya miskin."

Kemudian iya tertunduk dan berkata,

"benar apa yang kamu ucapkan, semua ini karena uang. Mungkin kalau sistem barter masih ada, aku tidak akan merasakan hal seperti ini. Tapi apa mungkin waktu sekarang ini apa aku akan selalu merasakan seperti ini?"

Saya menjawab,

"tidak. Kamu bisa merubah segalanya kalau kamu mau sukses. Saya pernah baca bahwa kunci sukses itu adalah Percaya Diri, Sabar, Tekun, Beribadah, Mau Belajar, Berusaha Maksimal, Optimis, Jujur, Tidak Sombong. Jatuh, Bangkit, Jatuh, Bangkit, Jatuh, Bangkit, ... hingga kamu sukses. Wirausaha bukan tidak mungkin untuk membuat dirimu berubah. Kamu bisa kaya, membeli apa yang kamu inginkan dan jangan menyimpang. Karena kalau kamu menyimpang kamu akan jatuh tersungkur. Aku kira kamu itu tidak memiliki beban, karena disetiap kita bertemu kamu tidak pernah merenung dan selalu tersenyum untuk kami teman-temanmu?"

Ia kemudian tertawa dan berkata,

"itulah kehebatan dalam diriku. Aku tidak ingin teman-temanku merasakan hal yang sama seperti diriku."

Karena sedikit aneh kemudian saya menimpali,

"Lha ini kamu bercerita denganku dengan raut wajah yang murung?"

Ia menjawab,

"karena kamu berbeda."

Kemudian saya bertanya,

"apa bedanya dengan teman-teman yang lain?"

Ia menjawab sambil tersenyum,

"rahasia".

Jawaban seperti itu membuat saya malas bertanya lagi.

Kita terdiam sejenak dan merasakan angin pantai yang begitu membuat diri saya nyaman.

Waktu menunjukkan jam 6 sore, kami bergegas pulang.

Di hari berikutnya ia tetap memberikan senyuman itu kepada kami teman-temannya.

Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa "Sebuah Senyuman Belum Tentu Menandakan Kebahagiaan Seseorang".
Senyuman Belum Tentu Menandakan Kebahagiaan Seseorang
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top