Thursday, May 28, 2015

Opini - Kondisi Jogja Masa Kini Adalah Pembelajaran

Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di negara kesatuan republik Indonesia. Jogjakarta adalah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Mungkin bila dibandingkan dengan daerah lain yang pernah saya kunjungi, saya bisa menyampaikan bahwa tempat ini adalah wilayah paling ramah, nyaman, aman, sejuk, dan bersahabat. Tapi itu dulu, sekarang telah berubah. Memang berubahnya tidak 360 derajat, bisa dibilang dalam transformasi. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, karena saya tau dibalik rencana Tuhan pasti mengandung pelajaran dan manfaat.

Monumen Tugu yogyakarta jogja masa kini

Waktu kecil dulu saya bebas berlari bermain layangan di sawah yang membentang luas. Tapi sekarang tidak bisa lagi, karena saya sudah remaja. Melihat kondisi Jogja saat ini juga tidak memungkinkan. Bangunan mewah, tinggi, dan besar, sudah menggantikan sawah dan pepohonan. Mall, hotel, perumahan, dan lokasi bisnis lainnya, sudah banyak berdiri dimana-mana. Bangunan pendidikan, pemerintah, dan rekreasi juga sudah dipugar menjadi lebih besar untuk menampung banyaknya populasi manusia yang tinggal entah sementara atau menetap di Jogja. Tower-tower pemancar jaringan dan tiang-tiang listrik sudah banyak ditegakkan. Mau bermain layangan menjadi was-was. Takut kesetrum atau takut layangan tersangkut menambah pelajaran baru untuk memilih tempat bermain layangan yang layak. Tapi saya juga bisa masih bersyukur dengan adanya pembangunan gedung-gedung besar itu bermunculan. Memang sih sifatnya mungkin untuk mencari keuntungan bagi pihak pengelola, tapi bagi kita (konsumen) yang ingin bermain dengan mainan baru bisa belajar dan tau akan penggunaannya. Contoh saja Mall. Di Mall kita bisa melakukan banyak hal walau memang harus bayar, seperti: nonton film di bioskop, bermain di zona game, makan, berbelanja kebutuhan sehari-hari, beli pakaian, beli mainan, nonton konser dadakan, atau sekedar nongkrong. Kepuasan tersendiri bagi kita yang sudah menjelajahi semua isi mall.

Jogja sekarang sudah tidak ramah seperti dulu. Dulu kalau ada orang yang lewat di depan orang lain, pasti menyapa. Tapi sekarang, itu sudah mulai mengikis sedikit-sedikit. Dulu kalau bicara dengan orang yang lebih tua, pakai bahasa jawa halus. Tapi sekarang, itu sudah jarang terjadi. Walau sebenarnya saya sendiri mengakui bahwa saya juga mulai seperti itu. Tapi, saya mencoba untuk sebisa mungkin tetap menjalani tradisi budaya leluhur itu walau tidak selancar dulu. Saya punya keinginan, kalau Tuhan masih menginginkan hidup di dunia untuk menikah dan mempunyai anak, saya ingin sekali mengajari dan menunjukkan budaya jawa kepada anak-anak saya. Karena bagi saya, budaya jawa itu adalah budaya yang terbaik yang diturunkan kepada saya.

Jogja sekarang sudah semakin kelihatan tidak aman. Maraknya kasus kriminal, seperti: begal, pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, dan tindakan kriminal lainnya, membuat mau pergi keluar rumah menjadi kuatir atau was-was. Memang benar, dulu juga ada tindak kriminal, tapi tidak separah sekarang ini. Tapi dengan adanya kasus tindak kriminal, bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Pembelajarannya adalah, kita diwajibkan untuk selalu berhati-hati dalam melakukan apapun di tempat manapun. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela bila rumah dalam keadaan kosong. Kendaraan bermotor harus selalu diservis agar bila dikejar atau mengejar jambret, kendaraan bermotor tidak mati secara tiba-tiba di tengah jalan. Dan semua hal keamanan lainnya. Atau bisa jadi ini semua karena efek media sosial?

Yogyakarta kini telah padat dengan penduduk, kendaraan, dan gedung. Kadang kita penduduk jogja merasa risih juga, tapi memang tidak dipungkiri bahwa hal-hal tersebut akan terjadi sesuai dengan kemajuan jaman dan teknologi. Tapi saya berpikir semua transformasi itu adalah pembelajaran bagi kita penduduk asli maupun pendatang. #SaveYogyakarta . Salam Ngeblog Asyikk \^o^/
Opini - Kondisi Jogja Masa Kini Adalah Pembelajaran
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -