Monday, May 18, 2015

Jangan Berpura-Pura Menjadi Orang Kaya

Miris? Iya. Iri? Tidak. Berubah? Mungkin.

Dari kata-kata di atas akan saya jelaskan berdasarkan judul artikel ini, yaitu: Pura-Pura Jadi Orang Kaya.

Artikel ini saya tulis karena saya pribadi hidup dalam kesederhanaan atas pelajaran yang diberikan oleh Tuhan melalui orang tua saya.

Miris? Iya. Saya merasa miris ketika melihat orang yang mempunyai harta di bawah rata-rata, akan tetapi memaksa diri untuk tampil layaknya orang kaya, hanya karena sebuah rasa gengsi belaka.

Saya percaya, apa yang Tuhan berikan kepada kita adalah sebuah pelajaran, yang nantinya bisa kita jadikan referensi untuk kehidupan kita di masa yang akan datang. Tapi, sebagian orang menganggapnya berbeda. Ada yang merasa, apa yang diberikan Tuhan itu tidak adil. Bukannya saya mau menjadi guru atau sok tau, tapi bukankah itu adalah kenyataannya? Kenyataan bahwa hidup di dunia ini memang harus ada keseimbangan. Ada positif ada negatif. Ada hidup ada mati. Ada muda ada tua. Serta, ada yang kaya dan juga ada yang miskin.

Hidup itu seperti bermain game. Ketika ingin mencapai level tertinggi, kita harus berusaha keras, memikirkan rencana, dan butuh waktu yang tidak cepat. Tapi kenapa kita harus memaksakan diri untuk tampil kaya hanya karena gengsi? Padahal kenyataannya kita hidup di bawah rata-rata.

Jangan pernah mengatakan Tuhan itu tidak adil, karena semestinya kita harus bercermin dahulu. Apakah usaha kita selama ini sudah maksimal? Apakah doa kita sudah tulus diucapkan? Apakah niat kita sudah benar? Dan apakah kebahagiaan itu muncul karena harta yang melimpah?

Berusaha yang keras untuk mendapatkan sesuatu memang tidak mudah. Butuh usaha, niat, dan ketelitian untuk mewujudkan impian kita dalam meraih kesuksesan. Saya rasakan bahwa, merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang ini adalah jalan yang terbaik. Karena dengan merasa cukup, kita tidak takut untuk kehilangan harta dan terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Dengan kita merasa cukup juga, membuat kita terhindar dari rasa kebencian kepada Tuhan.

Iri? Tidak. Iri melihat tetangga yang memiliki rumah beserta fasilitas yang mewah adalah sesuatu yang sangat merugikan diri sendiri. Jujur, saya juga ingin seperti mereka. Tapi di sisi lain, buat apa juga? Percuma juga saya iri dengan mereka. Karena kalau saya iri, apakah akan membuat saya kaya? Tidak juga.

Bersyukurlah dengan apa yang Tuhan berikan. Disisi lain, kita juga tidak berdaya dengan segala kehendak Tuhan. Karena Tuhan Maha Segalanya.

Saya marah pada Tuhan? Tidak. Kenapa saya harus marah? Saya tau bahwa 'mereka' (orang-orang sukses) butuh usaha yang keras untuk menggapai kesuksesan mereka, misalnya saja tetangga rumah saya. Saya tau, karena saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa dari mereka. Sebelum kaya, ternyata mereka juga pernah merasakan kemiskinan dan kerasnya kehidupan. Yang awalnya mereka bekerja sebagai buruh bangunan, lalu kemudian mereka mencoba berdagang keliling, dan menjadi buruh di salah satu perusahaan swasta di Indonesia. Sampai akhirnya mereka sukses. Itu karena niat, usaha, dan doa mereka yang tidak pernah berhenti.

Mungkin kalian tidak percaya dengan cerita saya mengenai cara mereka sukses. Maka itu saya sarankan kepada kalian, cobalah kalian bertanya kepada orang yang kalian anggap sukses di lingkungan kalian.

Kesuksesan adalah bukti yang nyata. Tapi rasa mengeluh dan iri yang tanpa henti hanya akan membuat kita selalu miskin, dan bisa membuat hati kita menjadi hitam. Serta membuat kita lebih mudah menyalahkan Tuhan daripada menyalahkan diri kita sendiri yang jelas-jelas tidak pernah berniat baik dan berusaha secara maksimal. Maka itu, jangan pernah iri dengan kesuksesan mereka.

Berubah? Mungkin. Merubah penampilan dari yang terbiasa memakai kaos oblong dan celana pendek, kemudian berubah untuk memakai baju hem, celana kain, dan sepatu kulit bisa juga kita lakukan.

Kita harus merubah penampilan jika itu di suatu acara atau tempat yang seharusnya berpenampilan resmi. Contoh saja waktu kuliah, atau bertemu dengan Presiden di istana negara. Kalau kita memakai baju oblong dan celana pendek saat acara tersebut, itu sama saja kita menginjak-injak harga diri kita sendiri. Berubah yang saya maksud adalah bisa menempatkan diri di tempat dan waktu yang sesuai.

Kalau pergi bermain dengan teman yang kaya, apa harus berpenampilan layaknya orang kaya juga? Tidak perlu. Tidak perlu gengsi. Gunakan apa yang kalian miliki saja. Jangan sampai karena gengsi, membuat diri kalian hidup di dalam tekanan dan menimbulkan masalah yang lain. Karena sesungguhnya, teman yang baik itu tidak pernah membeda-bedakan antar satu teman dengan teman lainnya. Kalau mereka malu dan menjauhi kalian karena tampilan kalian yang kuno, itu menandakan bahwa teman kalian itu tidak baik.

Lalu, apakah semua orang kaya itu sombong? Tidak. Ada juga yang baik dan juga dermawan. Maka itu pintar-pintarlah mencari teman yang tidak pernah melihat dari segi penampilan dan status.

Dari apa yang telah saya tuliskan di atas, bisa kita ambil kesimpulannya bahwa, "Kita tidak boleh berpura-pura menjadi orang kaya kalau hidup kita memang tidak seperti apa yang kita harapkan. Akan tetapi, jadilah orang yang selalu bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan. Berdoa, niat yang baik, dan selalu berusaha dengan maksimal adalah cara kita untuk meraih kesuksesan. Jangan pernah menyerah dan tetaplah berpikir positif, karena sebenarnya hidup kita bisa dirubah layaknya bermain game. Yang awalnya kita 'noobs' (tidak bisa apa-apa) menjadi seorang yang 'pro' (ahli).

Sekian artikel saya hari ini. Semoga bermanfaat. Akhir kata, salam Ngeblog Asyikk \^o^/
Jangan Berpura-Pura Menjadi Orang Kaya
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -