Thursday, May 14, 2015

Siapakah Saya?

Siapa Saya ?

who am i Pertanyaan ini selalu ada di otak begitu sering, menunjukkan bahwa sebenarnya ada jawaban yang masuk akal seolah-olah keberadaan kita berada di posisi yang selalu sama. Orang-orang yang mempunyai pertanyaan semacam ini biasanya berjuang dengan identitas mereka dan sedang mencari rasa inti dari diri mereka sendiri. Ironisnya adalah bahwa semakin anda berusaha untuk mengidentifikasi siapa anda, kemudian merasa lebih rapuh, maka anda akan menggangap hidup anda tak berguna dan memilih untuk mengakhiri hidup anda. Mungkin ada korelasi terbalik antara pertanyaan yang ditanyakan dan kemudahan yang anda alami saat hidup. Penekanannya tidak harus pada menemukan siapa 'anda' (yang merasa terkubur), tetapi pada memfasilitasi munculnya apa yang ingin anda lakukan.

Kita harus melihat identitas sebagai proses yang berkelanjutan. Daripada hanya diam terbatu, sebaiknya kita mencoba untuk merangkul rasa yang mengalir pada diri, kembali menganalisa, kembali ke pengorganisasian, kembali berpikir, dan kembali mempertimbangkan diri kita sendiri. Bagaimana jika pertanyaannya dibalik? Bukan bertanya siapa saya, namun bagaimana cara kita ingin terlibat di kehidupan?

Sebuah perasaan seringnya tidak mampu menginformasikan pertanyaan sekitar "Siapakah saya?" Sebagai orang yang terlibat kompleksitas pendalaman pemahaman sendiri, mereka akan memilih untuk mengabdikan diri untuk proses keberlangsungan hidup. Menyaksikan pikiran kita, tidak bereaksi dari kebiasaan lama, dan menjadikan hidup kita untuk lebih berkarya di dalam kehidupan. Dengan demikian, identitas yang kita cari memberikan semangat berupa gelombang kehidupan yang nantinya akan diperkaya oleh arus yang dilalui.

merenung Bayangkan bahwa anda sudah berada di penjara selama dua puluh tahun, di penjara sejak usia delapan belas tahun. Anda benar-benar tidak memiliki pengalaman kehidupan dewasa di luar penjara. Memang rasanya sangatlah tragis karena hidup dalam keterbatasan. Anda mungkin bertanya pada diri sendiri, "Siapakah saya? Ini mungkin akan memprovokasikan rasa rapuh diri yang paradoks, yang mungkin membuat anda semakin khawatir tentang kepribadian anda. Saya yakin, anda tidak akan memilih untuk tetap di penjara jika anda ingin menemukan identitas anda. Anda harus keluar untuk mendapatkan udara baru dari diri yang mengalir dari pengalaman baru yang akan anda dapatkan.

Saya telah bekerja dengan orang-orang yang telah menikah lebih atau kurang untuk seluruh kehidupan dewasa mereka. Setelah perceraian, mereka sering dihadapkan dengan pemikiran menyedihkan. Mereka mengklaim bahwa mereka tidak tahu siapa mereka. Lebih tepatnya, mereka mungkin tidak tahu siapa mereka sebagai sosok dewasa (otonom tunggal), tidak bermitra. Setelah semua, bagaimana bisa mereka tetap hidup? Daripada terperosok dalam ketakutan, anda perlu untuk mengumpulkan rasa kebangkitan dan petualangan. Ada rasa baru dari diri yang menunggu untuk dilahirkan. Anda bisa kembali membuat karya sendiri di sepanjang jalan anda selama masih hidup.

Di ujung arah lain, dari kontinum identitas mereka yang mengaku mengenal dirinya dengan baik. Namun ternyata ekstrim lain ini juga menandakan kerapuhan tentang identitas seseorang. Untuk mengenal diri sendiri dengan baik mereka rela untuk tidak meninggalkan aspek untuk pertumbuhan. Bahkan lebih dari itu, mereka juga menunjukkan kerentanan mendalam yang sedang dipertahankan terhadap sesuatu, seolah-olah yang di depannya terlalu berbahaya untuk dilihat lebih dekat.

Itu masuk akal untuk mencari sensasi yang lebih dalam dari diri sendiri. Untuk menjadi lebih erat sadar akan pikiran, perasaan, harapan, dan ketakutan, jelas dianjurkan. Kuncinya adalah untuk melibatkan rasa dan diri untuk ditempa, lebih seperti pohon willow yang memiliki kayu fleksibel dan dapat bertahan dari badai karena akan membungkuk jika tertiup angin, sedangkan pohon oak akan lebih kaku, lebih memungkinkan untuk retak.

alam semesta raya Alam semesta konon adalah tempat yang menjadikan keadaan yang bisa mengaliri sebuah potensial. Dan sangat penting untuk memahami bahwa kita memang bagian dari alam semesta yang berkelompok. Tujuannya kemudian adalah untuk mengakses potensi itu, menjaga bagian dari identitas yang terus melayani kita dengan baik hingga tua. Proses ini dikenal sebagai disintegrasi positif. Hal ini memungkinkan kita untuk menemukan keseimbangan antara ekstrem yang sebelumnya dibahas dan masuk ke dalam hubungan dengan diri yang berkomitmen untuk evolusi pribadi kita.

Note! - Hanya orang-orang yang mau berpikir dan mau bangkit menjadi individu baik yang paham dengan isi atau maksud dari artikel ini. Lol

Terima kasih telah berkunjung. Akhir kata, salam Ngeblog Asyikk \^o^/
Siapakah Saya?
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -