Monday, June 1, 2015

Dampak Buruk Suka Menghina

Mungkin dari sebagian kalian pernah melihat atau menemui, misal: ketika ada seorang penjual angkringan bicara sama kita maupun temannya mengenai pengamen yang baru mampir mengamen di angkringan itu. Sudah tidak memberi uang, malah bicaranya menyindir pengamen itu. Penjual itu bilang, itu orang sudah setiap hari ngamen disini, bikin tambah pengeluaran aja. Sudah tau saya jualan begini, eh masih ada yang minta. Memang saya orang tuanya? Ya, seperti itu. Bukannya saya mau menyindir penjual angkringan itu. Namanya kerja ya, harusnya tau lah posisinya. Yang penting halal, harusnya tidak perlu menyindir atau menghina. Saya sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala. Karena saya menyadari bahwa setiap manusia itu harus saling tolong menolong. Entah itu musuh terberat kita. Sesama orang miskin dilarang menghina.

Begini saja, coba kalau kita tukar posisi. Penjual angkringan jadi pengamen, dan pengamen menjadi penjual angkringan. Coba kalau pengamen itu juga menyindir penjual angkringan yang sudah bertukar posisi menjadi pengamen. Kan, sakit hati juga kalau dihina atau disindir seperti itu. Jadi beban atau mengganjal dihati. Akhirnya, pengamen itu tidak pernah lagi balik ke angkringan itu.

Begitu juga kalau kita kaya. Jadilah orang normal. Kita tidak boleh menghina orang miskin. Coba kalau kita tukar posisi, pasti tidak mau kan? Nah, makanya jadi orang itu harus sadar diri. Menyadari bahwa hidup ini memiliki perbedaan. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang mati, ada yang hidup. Ada yang sakit, ada yang sehat. Dan perbedaan lainnya. Lalu kenapa harus menghina? Hinaan kita malah membawa kita ke jurang kemiskinan dan keburukan. Tau-tau Tuhan memiskinkan kita. Mau protes sama Tuhan? Salah sendiri kalian selalu menghina si miskin.


Nah, sekarang kita sudah tau bahwa menghina itu akan membunuh kita sendiri. Bahkan karena suka menghina, kita juga dijauhi banyak orang. Bahkan keluarga sendiri bisa benci dengan kita. Lalu mau minta tolong sama siapa nantinya kita? Orang lain? Orang lain sudah tidak peduli dengan kita. Tuhan? Tuhan juga malas membantu kita. Itu sudah takdir bagi orang yang suka menghina. Tidak ada seseorangpun yang akan mau mengenal kita. Buruknya lagi, ketika kita mati, tidak ada yang mau mengurus mayat kita. Mayat kita akan membusuk dirumah, tanpa ada orang yang peduli.

berbagi kebahagiaan
Maka itu, hindari sifat suka menghina. Karena Tuhan membenci sifat itu. Tuhan saja benci, apalagi manusia lainnya. Jadi, jadilah orang yang suka menolong. Saya tau kadang ada juga orang yang iri kepada kebaikan kita, tapi lihat saja, banyak orang yang akan lebih peduli dan menyayangi kita. Jadi, jangan takut menjadi orang baik. Kalau takut jadi orang baik, berarti kita harus bersiap untuk hidup sendiri. Hidup sendiri itu tidak ada seninya, tidak enak, dan hidup menjadi kaku. Yang ada malah bosan dan ingin cepat-cepat mengakhiri hidup atau bunuh diri.

Sekian artikel saya hari ini, mengenai dampak buruk suka menghina. Semoga dapat menjadi pelajaran dan bermanfaat untuk kita. Amin. Akhir kata, salam Ngeblog Asyikk \^o^/
Dampak Buruk Suka Menghina
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -