Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Sabtu, 27 Juni 2015

Renungan : Kerugian Mengeluh Di Social Media

Kerugian Mengeluh Di Social Media - Saya bukanlah orang yang selalu ingin tahu. Tapi, ketahuilah bahwa masih banyak orang-orang mengeluh dengan hidup mereka. Lihat saja pada setiap status yang di upload di sosmed. Banyak sekali, bahkan mungkin bisa sampai jutaan per detik ada status baru mengenai keluhan-keluhan mereka. Contoh status mengeluh, "kenapa orang tuaku tidak adil. Adikku di belikan handphone keluaran baru, sedangkan aku yang sudah lama meminta malah tidak pernah di belikan". Memang tidak salah, karena itu hak individu dalam mengelola akun-nya masing-masing. Tapi, disisi lain kadang saya berpikir bahwa itu sia-sia. Bahkan kemungkinan, orang yang tidak sengaja membaca status orang (yang mengeluh), akan menganggap buruk kepada orang itu, tidak terkecuali saya.

Mengeluh Di Social Media

Apa yang sebenarnya mereka harapkan dengan memasang status itu? Perhatian? Atau jangan-jangan itu hanya untuk menempuh jalan menuju popularitas semata? Itu yang saya pikirkan selama ini. Tapi, memang tidak dipungkiri bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai status itu.

Jujur saya malah senang kalau ada komentar yang membully status itu. Bahkan saya sendiri kadang juga ikut melakukan bully. Kadang saya menuliskan komentar, "ini media sosial, bukan Tuhan. Jadi percuma saja. Lol." Atau, "hidupmu susah amat, kasihan. Lol." Karena saya berpikir bahwa dengan selalu mengeluh, apa yang kita inginkan tidak akan pernah tercapai. Mengeluh itu percuma, harusnya kita bersyukur. Karena dengan bersyukur hidup kita tidak akan pernah kekurangan. Kalau meminta itu pada Tuhan saja, minta kepada Tuhan memang tidak akan langsung diberi. Tapi di sisi lain, kita sudah menabung pahala untuk bekal kehidupan berikutnya setelah mati di dunia.

Jangan pernah merasa hidup kita itu serba kekurangan, karena sebenarnya ada orang lain yang hidupnya lebih kekurangan dari kita, hanya kita saja yang belum tahu. Tapi, ada pepatah yang sudah sering diucapkan atau ditulis, bahwa "masih ada langit di atas langit." Pepatah itu seharusnya bisa kita pahami kalau kita mau menggunakan otak untuk berpikir. Percuma saja kalau punya otak tapi tidak digunakan. Itu sama saja bahwa kita sudah menyia-nyiakan nikmat Tuhan selama ini.

Mengeluh di medsos membuat harga diri kita turun atau murahan. Padahal sebenarnya, kita harus meninggikan derajat kita kalau mau menjadi orang yang terpandang. Mana ada orang yang terpandang selalu mengeluh, kalau ada status mereka itu bisa dihitung dengan jari. Dan bisa juga keluhan mereka bukan tentang dirinya, keluarga, atau teman-temannya. Mungkin komplain ke produk atau kebijakan pemerintah, dan itu bermanfaat untuk orang banyak, bukan untuk diri sendiri. Kalau kita sering mengeluh untuk diri sendiri, berarti kita egois. Karena kita tidak memikirkan orang lainnya yang hidupnya lebih kekurangan dari kita. Ada juga pepatah yang mengatakan bahwa, "lihatlah ke bawah sebelum kita naik ke atas". Makanya banyak korupsi dimana-mana karena mereka hanya melihat ke atas tanpa melihat masyarakat mereka yang masih memiliki banyak kekurangan (maaf oot). Tapi intinya, bahwa masih ada orang yang hidup lebih susah dari kita. Bisa kita lihat orang-orang yang hidup di daerah konflik atau perang.

Nah, maka dengan artikel yang saya buat ini untuk menyadarkan kita yang sering memasang status mengeluh di media sosial. Karena mengeluh menandakan bahwa hidup kita tidak pernah bahagia. Dengan begitu banyak orang yang akan mengolok-olok atau membully kita. Saya mempunyai pemikiran bahwa status seseorang dilihat dari tingkat kebahagiaan. Semakin tinggi kebahagiaan kita, maka semakin tinggi juga status atau derajat kita. Sebaliknya, jika semakin rendah kebahagiaan kita, maka semakin rendah juga status atau derajat kita. Karena bagi saya, hanya orang-orang rendah saja yang hidupnya kurang bahagia. Maka itu, jangan menunjukkan kekurangan kita di depan umum bila tidak ingin membuat derajat kita turun atau menjadi murah.
Renungan : Kerugian Mengeluh Di Social Media
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top