Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Kamis, 04 Juni 2015

Renungan : Layang-Layang Kenangan

Waktu kecil dulu saya suka sekali pergi ke sawah atau di lapangan bermain layang-layang. Aktivitas itu biasa dilakukan saat sepulang sekolah atau hari libur. Tidak lupa mengajak teman lainnya untuk mengisi kesendirian dan menciptakan kebahagiaan bersama. Berlari kesana kemari mengejar layangan putus adalah kebanggaan tersendiri bagi kami yang berhasil mendapatkan layangan putus tersebut. Tidak hanya layangan putus yang di angkasa saja yang kami harapkan. Layangan putus yang tersangkut entah di pohon atau di genteng juga menjadi sasaran. Teknik jitu yang kami gunakan agar bisa mendapatkan layangan putus adalah; biasanya mencari benangnya dahulu daripada menunggu layangannya jatuh ke tanah. Karena dengan mendapatkan benangnya, secara otomatis pasti akan mendapatkan layangan itu. Benang yang didapat kemudian disambung dengan benang kepunyaan sendiri, agar benangnya bertambah panjang. Sedangkan layangannya, disimpan kalau masih bagus. Kalau jelek langsung dipakai, sedangkan layangan milik semula disimpan untuk jaga-jaga. Kalau layangannya bolong atau berlubang, ditambal dengan kertas kalau layangannya berbahan kertas dan direkatkan dengan lem kertas. Kalau layangan plastiknya yang berlubang, ditambal pakai plastik dan direkatkan dengan obat nyamuk bakar yang sudah dihidupkan.

kenangangan bermain layang-layang waktu anak kecil

Dulu waktu kecil sering juga membuat layangan sendiri. Cari bambu di dekat sungai atau cari bambu sisa dari pembangunan rumah yang sudah tidak terpakai. Kemudian dipotong dan dibentuk sesuai keinginan.

Bentuk layangannya juga bervariasi. Ada yang berbentuk ikan. Ada yang berbentuk ular. Ada yang berbentuk burung. Ada juga yang ukuran tingginya sampai satu meter. Itu semua berdasarkan ide dan kreasi dari observasi yang ada dilapangan dan sawah. Ini adalah bentuk kebanggaan tersendiri, karena bisa menghasilkan sesuatu tanpa ada bantuan dari orang tua. Hitung-hitung belajar mandiri dan belajar berkreasi.

Layang-layang yang dibuat ternyata juga mendatangkan rezeki. Memang tidak banyak, tapi cukup untuk membeli benang layangan. Layangan yang kami buat biasa dijual dengan harga 500 rupiah. Sedangkan bentuk yang lain seperti; ikan, burung, dan lain-lain dihargai 2000-5000 rupiah, tergantung besarnya ukuran. Lumayan juga kan, sisanya bisa dimasukkan ke dalam celengan.

Tapi itu dulu. Sekarang sudah remaja harus pintar memutar otak untuk mencari cara yang lebih baik agar mendapat penghasilan yang lebih besar dari masa lalu. Memang benar masa lalu akan menjadi sebuah kenangan. Akan tetapi, masa lalu adalah sebuah kenangan yang sangat menyenangkan dan bermanfaat untuk belajar dari sebuah pengalaman kehidupan.


Namun saat ini saya merasa miris sama anak-anak jaman sekarang. Pas musim layang-layang tiba, banyak dari mereka yang sibuk main gadget, memilih menjadi pribadi yang tertutup dari dunia sosial. Seandainya gadgetnya dipakai untuk hal positif saja enggak masalah, lha ini hanya buat main game plus buka tutup social media aja. Padahal kalau mereka mau keluar rumah dan merasakan main layang-layang sama teman mereka rasanya bakalan asyik banget. Mereka bisa melakukan persekongkolan buat mutusin layangan orang, atau sama-sama iuran untuk membuat layangan bareng-bareng. Pokoknya kenangan itu bakal menjadi kenangan terindah bagi mereka, dan khususnya saya pribadi.


------------

Sekian artikel saya kali ini. Semoga dapat memotivasi diri kita untuk menggapai sebuah kesuksesan duniawi. Terima kasih telah berkunjung. Akhir kata, salam Ngeblog Asyikk \^o^/
Renungan : Layang-Layang Kenangan
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top