Tidak Peduli Kata Orang, Yang Penting Page One 🏆 & Gajian 💰

Jumat, 26 Februari 2016

Jangan Iri Dengan Kesuksesan Orang Lain

Sedikit unek-unek dari adik kelas satu jurusan tempat saya kuliah. Semoga dapat meluruskan niat anda dalam menjalani kehidupan masa perkuliahan. Berikut isi curahan hatinya yang ia publikasi di akun facebooknya.

stop dilarang iri

Setidaknya perlu untuk dipahami bersama. Beberapa bulan ini, banyak para mahasiswa lama sudah gelisah dengan perkuliahannya.

Ya, secara tuntutan akademik kita sudah bukan semester muda lagi, yang artinya sudah sepantasnya mulai fokus dengan amanah orang tua atau pemberi beasiswa untuk menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

Namun ada yang aneh. Ada segelintir orang mulai menyindir satu sama lain. I dont know, why be like that?

"Ingat! IPK itu hanya mengantarkan anda ke meja wawancara, selanjutnya adalah softskill anda"

Ya. Sepenggal kalimat tadi menjadi trend yang kuat bagi para organisatoris untuk berdalih dengan akademiknya. Alih-alih mulai beralasan, bahwa mahasiswa tidak perlu untuk lulus cepat dan memiliki IPK yang tinggi. Tanpa softskill, kita hanya akan menjadi lulusan yang terkesan keren sesaat saja. Terletak hanya pada selembar ijazah dan selendang bertuliskan kata 'Cumloude'.

Tidak ada yang salah menurut saya dengan statement ini, karena ada benarnya juga. Namun saya terkadang terganggu dengan intonasi ketika ada orang yang mengucapkannya, menggunakan nada yang berubah dengan ekspresi yang tak biasa.

Menurut saya, sepenggalan kalimat di atas ada benarnya, namun dalam bermasyarakat atau hidup di dunia kerja, akademisi malah sangat dibutuhkan begitu juga softskill-nya yang bisa menjadi andalan.

Namun perlu diperhatikan bersama. Menurut saya pribadi, kalimat di atas (yang sering disampaikan pembicara di perkumpulan aktivis) adalah sepenggalan kalimat yang belum lengkap, terpenggal, dan hilang sebagian, sehingga kesannya akademisi tidak menjadi prioritas dalam belajar di perguruan tinggi. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Penggalan kalimat yang hilang dari kalimat di atas adalah ...

“Ingat! IPK itu hanya mengantarkan anda ke meja wawancara, selanjutnya adalah softskill anda.

Namun jikalau saja citra akademik anda sudah tidak baik, bagaimana bisa sampai di meja wawancara? Lulus seleksi pun kecil sekali kemungkinannya.

Jadi anda perlu kedua-duanya.


Ahh. Saya rasa kalimat ini cukup berimbang daripada sepenggalan kalimat sebelumnya. Menunjukkan bahwa kita harus bisa mengoptimalkan kesempatan belajar yang besar untuk bisa mengusai keduanya, atau mungkin, bisa lebih dari itu.

Jadi, jangan saling underestimate antara anda dan teman anda. Begitu juga dengan 'para mahasiswa akademisi'.

Setiap orang memiliki hak dan pihannya masing-masing. Lulus dengan tepat waktu atau mengundur beberapa bulan karena suatu hal mungkin lebih baik bagi mereka.

Menyelesaikan amanah, berdedikasi dengan almamater, atau mengejar suatu mimpi ketika masih bertitle mahasiswa, dan sebagainya, bisa saja menjadi motif mereka untuk memilih demikian, asalkan saja bukan menjadi alasan untuk menghujat akademisi dan terlena dengan zona nyaman dan lupa dengan skripsinya.

Setiap orang punya alasan dan setiap orang punya cara yang berbeda menjalani hidupnya. Urusi urusan saja diri anda sendiri. Jadi orang jangan sok lebay. Ha..ha..



Pada akhir kalimat, adik kelas saya ini juga memberikan sebuah ucapan kepada sahabatnya.


Selamat untuk teman-teman saya yang bisa lulus 3,5 tahun dengan IPK yang Fantastik, Amazing, dan WOW. Kalian keren, dan Luar biasa.

Ini salah satu teman sekelas saya yang mungkin bisa menjadi inspirator bagi kita. Mencoba menginspirasi orang-orang di sekitanya.

Titik Ulfatun adalah salah satu Mahasiswi Pendidikan Akuntansi 2012. Seorang mahasiswi yang mampu memadukan keduannya, bahkan lebih. Lulusan terbaik FE UNY pada Januari 2016 (3,5 tahun) dengan IPK 3,90. Seorang organisatoris (Ketua UKMF Kristal 2015). Sosok yang berprestasi dengan karya tulisnya. Pernah ke Hongkong dan China karena prestasinya. Sosok tutor PAI yang amanah. Dan sosok ketua kelas yang setengah killer, antara tegas, garang, dan peduli dengan temannya.

Mohon maaf, terima kasih, dan semoga bermanfaat.


Nah seperti itulah unek-unek adik kelas saya. Saya prediksi sepertinya postingan tersebut ditunjukkan kepada orang-orang yang sirik atas keberhasilan orang lain.

Jadi, kesimpulan hari ini adalah ...

Daripada mengurusi orang lain, atau bahkan menjelek-jelekkannya, lebih baik urusi saja diri kita sendiri. Iri hati memang manusiawi, tapi jika iri itu anda jadikan motivasi, anda dan orang yang anda iri kan Insya ALLAH akan bahagia dan hidup sejahtera secara berdampingan. Intinya, Positif Thinking!

Oh iya, berhubung tadi boleh mencantumkan nama beliau, So, Nama beliau adalah Ujang Hartato.

Sekian dari saya. Semoga dapat meluruskan hati dan membersihkan pikiran picik anda sekalian. Akhir kata salam Ngeblog Asyikk \^o^/
Jangan Iri Dengan Kesuksesan Orang Lain
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -
top