Wednesday, July 20, 2016

8 Dampak Buruk / Negatif Bermain Pokemon Go Tapi Masih Saja Ketagihan

Pokemon Go merupakan sebuah game yang peminatnya hampir menyamai peminat media sosial Twitter di Amerika ini, semakin populer juga di penjuru dunia. Peminatnya pun tidak hanya anak-anak dan remaja saja, bahkan banyak orang dewasa, bapak-bapak, ibu-ibu, nenek-nenek, dan kakek-kakek juga memainkannya. Entah karena hobi atau karena memang nggak punya pekerjaan alias pengangguran, ya itu sih privasi masing-masing.

Logo Pokemon Go

Jujur, saya sendiri pun mulai menyadari bahwa game ini membuat saya jadi goblok / tolol / bodoh / apalah namanya. Secara karena game ini, seperti candu yang membuat lupa diri akan kesehatan, keselamatan, ibadah, kesadaran, dan kecerdasan.

Ketika saya main game ini, menemukan pokemon terdekat dengan jarak 2 jejak (menurut notif pojok kanan bawah), ternyata setelah ditelusuri, saya harus masuk ke pekarangan rumah orang lain. Nah, pas yang punya rumah (bapak-bapak) melihat ke arah saya, terjadilah percakapan seperti ini :

Bapak : "ada perlu apa, mas?"
Saya : "oh nggak apa-apa kok, pak"
Bapak : "lha kok masuk sini?"
Saya : "cari pokemon, pak"
Bapaknya bingung (sambil garuk-garuk kepala). Beliau kemudian tanya lagi : "sudah nemu pokemonnya?"

Saya : "sudah pak"
Bapak : "memang pokemonnya dimana?"
Saya : "itu persis di depan bapak" (sambil nunjuk pakai telunjuk tangan)
Bapak : "itu mana? Lha nggak ada apa-apa" (posisi bingung)
Saya : "ada pak, ada"
Bapak : "wooo, dasar orang gila! Lha nggak ada apa-apa juga"

Kemudian saya berpikir sejenak karena bapaknya nggak percaya. Akhirnya saya suruh bapak itu mendekat dan memperlihatkan layar HP saya ke bapak tersebut.

Bapaknya : "oalah, pantas bapak nggak lihat. Ternyata ada ya, hahaha" (sambil cengengesan)
Saya : "iya kan pak, ada di sana"
Bapak : "lha kok pas nggak lihat hp mas, pokemonnya nggak ada? Tapi pas lihat layar hp mas, pokemonnya ada?"
Saya : "ini hanya game pak. Namanya Pokemon Go. Baru rilis, tapi di Indonesia masih belum resmi. Saya nemu download-an gamenya di internet"
Bapak : "tidak paham aku, hahaha" (cengengesan sambil liat layar hp saya)

Karena sudah dapat pokemonnya (Pidgey), saya pamit sama bapaknya.

Saya : "yasudah, pak. Saya pamit dulu. Sudah dapet soalnya. Permisi ya, pak"
Bapak : "iya dek. Titidj"
Saya : "siap, TQ, pak" (sambil ngeliatin bapaknya yang kayaknya kebingungan sama "TQ" itu apa, atau masih bingung sama Pokemon? Entahlah.)


Di pagi hari berikutnya saya hunting pokemon lagi sambil jalan kaki di sekitar kampung. Ketika saya lagi hunting, tiba-tiba ada yang menepuk punggung saya dari belakang. Pas saya menoleh, ternyata teman saya yang nepuk. Terjadilah percakapan seperti ini :

Teman : "sedang apa ?"
Saya : "cari pokemon, juh"
Teman : "mana? Sudah dapet berapa, kamu?
Saya : "lumayan"
Teman : "ayo ngopi (ajakan minum kopi)! Main pokemonnya nanti lagi"
Saya : "bentar lagi, tanggung"
Teman : "ya sudah, saya tunggu di warung borjo biasa"
Saya : "oke oke"

Hampir semua wilayah kampung saya jelajahi, dan hanya menemukan 3 pokemon saja, sedangkan 1 pokemon gagal diperoleh karena menghilang. Dibilang apes, ya bisa saja. Atau bisa jadi karena memang lokasi persebaran pokemonnya yang acak dan tidak banyak. Entahlah.

Karena merasa lelah, capek, lemes, dan gerah karena hari sudah siang, akhirnya saya mampir ke borjo dimana teman saya bilang tadi.

Sampai di tempat, kemudian teman saya tanya : "dapat berapa? Banyak nggak?"
Saya : "sedikit, juh"
Teman : "hahaha. Zonk ternyata, wkwkwk" (ketawanya nyindir)
Saya : "haha, biarin. Setidaknya usaha sekalian olahraga" (ngeles)
Teman : "kalau zonk, zonk aja. Nggak perlu mengelak. Wkwkwk" (ketawanya semakin membabi buta)

Akhirnya saya diam saja tidak membalas kesimpulannya tadi sambil minum es goodd*y pesanan saya yang baru datang.

Sorenya saya balik ke rumah (karena sudah biasa saya dan teman-teman nongkrong di borjo dekat rumah sampai lupa waktu kalau nggak ada kerjaan). Sampai rumah terus mandi, basuh badan pakai handuk, bla bla bla. Setelah itu hidupin laptop dan browsing facebook.

Salah satu postingan di grup yang saya ikuti, memposting tentang adanya korban kecelakaan akibat bermain Pokemon Go di luar negeri. Ada juga yang posting, "ada seorang bocah naik motor, terus menabrak selebor belakang motornya sampai pecah. Gara-gara si bocah tidak melihat pengendara lain didepannya karena asyik melihat layar HPnya yang sedang cari pokemon". Dan yang masih baru di berita, "2 orang masuk jurang gara-gara cari pokemon".

Dari kejadian-kejadian di atas dan yang saya alami selama bermain game ini, saya akui bahwa game Pokemon Go bikin goblok / tolol / bodoh / atau apalah namanya. Dan inilah 8 Dampak Buruk / Negatif yang akan kita dapatkan dari permainan ini. Alasannya karena:

1. Pokemon Membuat Lupa Waktu

Bahkan kalau sedang semangat-semangatnya, bakalan lupa sama pekerjaan rumah, tugas-tugas, janji, pasangan, teman, keluarga, dan lainnya.

2. Pokemon Membuat Otak Jadi Candu

Bisa melebihi rasa candunya cinta kepada pasangan. Bahkan teman saya ada yang berkata, "Lupakan pacar, demi pokemon!" karena sudah ketagihan (mungkin).

3. Pokemon Buat Frustasi

Yang ini dapat terjadi ketika pokemon yang mau di tangkap malah lepas, server down-nya terlalu lama, pas hunting koneksi internet tiba-tiba hilang, pokeball habis ketika baru pasang incense atau lure moduls, dan penyebab lainnya.

4. Membuat Iri Antar Pemain

Ketika lihat level char teman lebih tinggi, atau pokemonnya lebih bagus, yang ada hanya membuat panas dalam hati. Tapi, hanya bisa dibatin saja. Lol.

5. Semakin Individualis

Teman saya ada yang hunting pokemon tanpa pernah mengajak-ajak. Eh, pas kita-kita hunting dan nggak ngajak dia, dianya malah marah-marah nggak ketulungam. Alhasil, dia yang menang dan kita-kita yang mengalah.

6. Membuat Orang Berani Berbohong

Pas di chat untuk diajak hunting pokemon, ada teman yang balas chat bahwa dia sedang pergi sama adiknya buat beli buku. Alhasil nggak jadi hunting gara-gara dia bilang nggak setia kawan kalau nggak bareng-bareng.

Nah, pas kita-kita (saya dan beberapa teman) pergi ke rumahnya buat ngasih undangan rapat 17 Agustus-an, ternyata ada adiknya yang menerima undangan. Terus sekalian tanya ke adiknya,

Teman saya : "tadi jadi beli buku sama si Kakak?"
Adiknya : "nggak tuh, dari tadi di rumah aja"
Teman saya : "lha kakakmu pergi kemana?"
Adiknya : "nggak tau. Eh katanya cari pokemon gitu. Entah apaan itu"
Saya : "walah, jancuukkk" (dalam hati)
Teman saya : "makasih ya, dik"
Adiknya : "oke mas. Makasih juga undangannya"
Saya : "itu undangannya buat kakakmu yang jancuukkkk itu. bukan buat kamu, hehehe" (sambil cengengesan)
Adiknya : "jancukkk itu apa ya mas?"
Saya : "jancukkk itu Ganteng" (sambil balik badan, terus pergi)
Kita-kita : "semua celotehan tentang kemarahan ditunjukkan pada si kakak yang jancukkk, eh ganteng. Lol" (dalam hati)

7. Lupa Akan Keselamatan Jiwa

Di berita, di postingan media sosial, atau melihat dengan mata kepala sendiri, karena fokus menatap layar HP ketika keasyikan main game ini ada sebagian orang yang lupa dengan keselamatannya sendiri. Entah mengalami tabrakan, tertabrak karena tiba-tiba mengerem, jatuh dari tebing, dan lain sebagainya.

8. Dunia Pokemon Dirasa Nyata

Pokemon Go vs Real Life Kehidupan NyataContohnya seperti cerita saya di atas ketika masuk pekarangan rumah orang buat cari pokemon. Bagaimana orang tua yang bukan penggemar dan nggak pernah tau apa itu pokemon, bakalan bisa tau pokemon itu apa? Padahal itu cuma game, not real !

Saya akui bahwa kejadian itu saya lah yang goblok. Karena seharusnya saya mengajak bapak-bapak itu buat main Pokemon Go juga, bukannya malah langsung kabur begitu saja. Biar beliau tau dunia pokemon itu seperti apa. Eh eh salah tulis. Lol.

Yang Benar !

Gara-gara game ini, ingin rasanya semuanya bisa ditangkap pakai pokeball, seperti :
  • Cewek cantik di lempar pokeball biar bisa jadi koleksi.
  • Orang cerewet di pokeball biar diam.
  • Mantan yang jahat di lempar pokeball, terus kalau berhasil dapat, pokeballnya di lempar ke lahar gunung Merapi.
  • Semprotin Incense di tubuh atau pasang Lure Moduls disuatu tempat biar cewek-cewek pada mendekat.
  • Dan imajinasi bodoh pokomen go lainnya.
Dan perlu diketahui juga, bahwa (kemungkinan besar) game atau karakter pokemon bukan sebagai bahan buat Ujian Sekolah / Kuliah. So, berpikirlah rasional.


Dari delapan kebodohan atau dampak buruk /negatif akibat game Pokemon Go yang saya akui di atas, pada dasarnya;

Bukan GAME-nya yang SALAH. Melainkan, PENGGUNA-nya lah yang BODOH dalam menggunakan game tersebut!

Intinya !

Berburu poke harus pakai imanKalau anda main game Pokemon Go, jangan kebablasan, jangan Go-blok, apalagi sampai lupa waktu hingga melupakan tugas-tugas, atau melupakan kewajiban ibadahmu dengan SANG PENCIPTA. Dan jangan lupa untuk selalu menghargai nyawa anda, soalnya, Keluarga Anda Sedang Menunggu Anda Di Rumah.

Kalau mau goblok jangan ajak-ajak orang lain, ya. Mainlah game itu sendiri. Kecuali kalau ada teman yang minta diajari, ajari saja. Nanti kalau teman anda goblok, nasehati dia supaya jangan jadi goblok. Karena penyebab dia jadi goblok adalah Anda, karena anda yang telah bersedia mengajari dia. Lol.

Ya sudah, ya. Saya cukupkan artikel yang berisikan curahan hati ini.

Semoga, kamu kamu jangan sampai jadi goblok akibat main game ini, ya!

Tambahan! Walau game ini telah meracuni saya sehingga menjadikan saya goblok, saya akui bahwa sampai saat ngepost postingan inipun, saya masih saja KETAGIHAN dengan game ini. HA HA HA !!!!!!

Sekian dari saya, terimakasih telah membaca postingan dan berkunjung blog ini. Akhir kata, salam Ngeblog Asyikk \^o^/
8 Dampak Buruk / Negatif Bermain Pokemon Go Tapi Masih Saja Ketagihan
author
Tulisan yang bersifat positif dapat mengurangi tingkat depresi si penulis dan si pembaca- Ngeblog Asyikk -